Edukasi Diabetes Sedini Mungkin

Pola hidup yang serba instan membuat masyarakat semakin rentan terkena penyakit degenerati. Sebut saja diabetes, darah tinggi, penyakit jantung dan stroke, penyakit yang pada semulanya dialami oleh para lansia diatas 50 tahun. Namun saat ini terjadi pergeseran angka kejadian diabetes, terjadi diusia produktif yaitu 30-40 tahun. Hal ini tentu erat hubungannya dengan pola makan yang tidak sehat, malas berolahraga dan kurangnya pemahaman atau pengetahuan tentang penyakit diabetes. Masyarakat masih menganggap penyakit diabetes hanya bisa terjadi saat usia sudah lansia. Misalnya saja kasus rata-rata pasien yang datang ke Klinik Diabetes Centre di Kampung Baru, Medan, usia pasien dengan penyakit diabetes masih 30-40 tahun, bahkan ada beberapa pasien sudah  terkena diabetes di usia 20 tahun ke atas.

Diabetes melitus (DM) atau kecing manis adalah penyakit dimana kadar gula dalam darah meningkat karena terganggunya hormon insulin. Cepat haus, sering buang air kecil, lekas lelah, dan berat badana menurun meskipun nafsu makan tetap tinggi, ini merupakan tanda-tanda penyakit diabetes. Dalam kondisi yang lebih parah dapat menimbulkan pandangan mata kabur, bila ada luka sulit untuk sembuh dan impotensi pada pria.

Menurut World Diabetes Foundation, 2012, prevalensi diabetes diperkirakan akan terus meningkat 2 kali lipat di seluruh dunia di tahun 2025. Secara global, sekitar 285 juta jiwa atau 6,4% dari populasi orang dewasa di seluruh dunia mengidap diabetes. Angka tersebut akan terus meningkat menjadi 438 juta jiwa di tahun 2030 atau sekitar 7,8% dari populasi orang dewasa.

Angka kejadian diabetes yang terus meningkat akan memberi dampak yang bermakna kepada masyarakat, yaitu  akibat insidensi komplikasi kronik yang disebabkan diabetes. Dampak yang terjadi meliputi kualitas hidup penderita yang akan terus menurun, biaya dan pelayanan kesehatan yang mahal, serta masalah psikososial. Di hampir semua negara, biaya untuk diabetes yang terbesar adalah untuk perawatan di rumah sakit karena komplikasi kronik. Seperti: penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kaki diabetes, dan lain-lain.

Oleh karena itu diperlukan pencegahan segera. Pengetahuan dan pemahaman akan penyebab penyakit diabetes dan pengobatannya sangatlah penting. Peran edukasi sangat vital bagi penderita diabetes dan keluarga. Hal ini penting untuk mengurangi komplikasi dan memperbaiki quality of life (kualitas hidup) penderita.

Proses edukasi pasien diabetes akan memberikan gambaran sepenuhnya tentang penyakit. Proses diskusi tanya jawab pasien dan keluarga akan memberikan pengertian sepenuhnya tentang diabetes, sehingga tidak ada kebingungan. Pasien dan keluarga akan lebih mengetahui perjalanan penyakit diabetes, dapat mengontrol kadar gula dengan baik sambil menjalani pekerjaan seperti biasa. Edukasi diabetes yang benar akan memberikan pengaruh positif kepada penderita diabetes sehingga tidak gampang terpengaruh dengan pengobatan alternatif yang terkadang justru memperburuk kondisi keadaan pasien diabetes.

Menjalani pengobatan diabetes yang terus-menerus tanpa pemahaman dan kontrol kadar gula yang benar akan membuat penderita diabetes jenuh,  frustasi bahkan depresi. Sangat disayangkan banyak pasien setelah didiagnosis diabetes oleh dokter banyak yang mengurangi porsi makan secara tidak terkendali sehingga pasien menjadi lemas, dan tidak sadar hingga terjadi komplikasi hipoglikemia (kondisi gula dalam darah yang terlalu rendah),atau memakan obat diabetes saat badan terasa tidak enak saja sehingga kerja obat didalam tubuh tidak optimal, bahkan tidak sedikit pasien yang sering berganti-ganti obat diabetes dengan dokter berbeda (shopping doctor) karena ingin cepat sembuh.

“Tanpa pemahaman dan perencanaan yang menyeluruh terhadap pengelolaan diabetes akan memperburuk kondisi pasien, meningkatkan komplikasi penyakit, dan biaya pengobatan yang mahal terbuang sia-sia”.

Cara edukasi dan dukungan pengelolaan diabetes mandiri atau yang dikenal dengan DSME (Diabetes Self Management Education and Support) berguna untuk membantu individu dengan diabetes menjaga pengelolaan diabetes yang berkelanjutan, begitu pula saat mereka menerima kesempatan dari pengobatan terbaru. Pasien diabetes tidak hanya dibekali dari segi penjelasan mengapa terkena diabetes, pengobatan diabetes, tetapi diberikan pemahaman akan perencanaan pola makan dan akitifitas fisik atau olah raga yang benar dan sesuai, pencegahan komplikasi diabetes, dan motivasi hidup sehat dengan diabetes. Edukasi diabetes tidak hanya ditujukan kepada penderita yang sudah terkena diabetes, namun kepada keluarga penderita juga sangat penting, selain untuk memberi dukungan kepada penderita diabetes juga mencegah tidak terkena diabetes, karena telah memiliki resiko (genetik). Adapun individu yang memiliki resiko terkena diabetes adalah mereka yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes, berusia lebih dari 45 tahun, memiliki penyakit tekanan darah tinggim kolestrol tinggi dan trigliserida tinggi , dan individu memiliki berat badan saat lahir lebih dari 4000gr.

Edukasi diabetes dapat diperoleh dari petugas kesehatan dari berbagai disiplin ilmu yang telah mendapat pelatihan tambahan dalam pengelolaan dan edukasi diabetes, disamping pelatihan dasar yang sudah dimiliki sesuai dengan disiplin ilmunya. Edukasi diabetes yang benar dapat diperoleh dari edukator diabetes seperti dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, ahli gizi dan perawat diabetes yang sudah terlatih khusus pengelolaan diabetes.

Berdasarkan penelitian American Diabetes Association (ADA) menunjukkan bahwa individu yang tidak pernah mendapat edukasi diabetes 4 kali lebih beresiko untuk terjadi komplikasi diabetes. Oleh karena itu peran edukasi diabetes merupakan hal yang vital sebagai bagian dari pengobatan diabetes yang sukses. Pasien dapat mengelola diabetes secara mandiri dan terkontrol, karena orang yang sudah didiagnosis diabetes harus menyediakan 95% atau lebih dari kegiatan hariannya untuk diabetes.

Edukasi kepada individu dengan diabetes dapat diperoleh di praktek dokter primer, ruang perawatan di rumah sakit, poliklinik rawat jalan di rumah sakit, praktek dokter swasta atau tempat berkumpulnya komunitas diabetes. Mintalah waktu lebih kepada dokter atau petugas kesehatan anda, untuk berdiskusi dan merencanakan pengelolaan diabetes, sehingga anda bisa mengendalikan kadar gula dengan baik, kualitas hidup semakin baik tanpa komplikasi diabetes. Cegah komplikasi diabetes dengan pola hidup yang sehat. Mari hidup sehat dengan diabetes terkontrol.

(dr.Pebri – Harian Analisa Terbit Oktober 2014)

Post Author: drpebri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *